Cerita Hentai Shin Chan (Bagian 1)


Telah 1 minggu ini Shin Chan lihat papanya dengan cara diam-diam ambil botol ungu dari atas almari obat didapur serta minum sebutir obat warna merah dari dalamnya. Setiap saat Shin Chan menanyakan pada papanya, dia tetap mendapatkan jawaban yang tidak memberi kepuasan. Shin Chan memikir jika yang diminum papanya tiap akan pergi kerja itu ialah permen yang benar-benar enak rasa-rasanya serta diselinapkan darinya. Timbullah kemauannya untuk coba obat yang disangkanya permen enak itu.

Sepulang sekolah dia langsung kedapur sebab lapar. Lalu dia coba berteriak menyebut mamanya tetapi dia cuma dengar jawaban samar-samar dari belakang. Mamanya minta Shin Chan untuk sabar menanti sebab beliau masih repot membersihkan baju. Duduk di muka meja makan pandangannya tertuju pada almari obat yang ada di sudut dapur. Dilihatnya satu botol ungu diatasnya.
"Uhh, lapar ini paling enak makan permen dahulu ya", tuturnya dalam hati.
Otaknya berputar-putar cari langkah mendapatkan botol ungu yang begitu tinggi dari capaiannya. Pada akhirnya dia ambil bangku tinggi serta sukses mencapainya. Di botol itu tercantum "Penis Enlargement", (pembesar kelamin), tetapi Shin Chan tidak tahu maknanya serta dia anggap didalamnya ialah permen manis. Saat akan buka didengarnya suara mamanya mulai merapat ke dapur. Dengan cepat-cepat dia ambil 2 butir dari dalam botol tersebut lantas ditutup serta dikembalikan ketempat aslinya. Sekalian kunyah 2 butir obat yang disangkanya permen itu dia menggerakkan bangku ketempat sebelumnya.

"Hmm, rasa-rasanya manis, enak", tuturnya dalam hati.
"Shin Chan, kamu makan apa?", bertanya mamanya saat lihat anaknya lagi kunyah suatu hal.
"Permennya Papah", jawab Shin Chan enjoy tanpa ada rasa bersalah.
Tanpa ada pikirkan masalah permen itu, mamanya Shin Chan selanjutnya mempersiapkan makan siang Shin Chan. Mulai sejak itu jika Shin Chan harus menanti untuk makan siang dia pasti ambil serta kunyah permennya Papah tanpa ada sepengetahuan siapa saja. Walau tidak tiap hari dia ambil permennya Papah tetapi tiap pemungutan dapat 2 sampai 3 butir. Hal tersebut dia kerjakan semasa nyaris 3 bulan. Papah Shin Chan yang banyak direpotkan pekerjaan kantor tidak sempat berprasangka buruk akan secara singkat stol obatnya sebab seringkali lupa serta tetap beli lagi sesudah habis.

Shin Chan sendiri tidak sempat merasai dampak dari obat itu sebab dia benar-benar tidak pahami. Dampak yang diakibatkan permen yang dikunyahnya ialah pembesaran alat kelamin pria cuma di saat ereksi. Oleh sebab Shin Chan kecil tidak pernah ereksi karena itu dia juga tidak merasai apa-apa.

Satu sore hari saat Shin Chan melihat TV bersama-sama mamanya, dia lihat vokalis wanita yang cuma kenakan bikini.
"Ma, Mama, yang nyanyi cantik ya Ma", kata Shin Chan pada mamanya.
"Cantik mana sama Mama?", bertanya mamanya.
"Cantik Mama sedikit, tetapi banyakan vokalis itu", jawab Shin Chan enjoy.
"Ehh, Shin Chan nakal ya", teriak mamanya.
"Jika demikian kelak tidak kubuatkan mie kegemaranmu", sambung mamanya.
"Ma, Mama, buat mie-nya dong", rengek Shin Chan berulang-kali tanpa ada diacuhkan mamanya.
"Mama cantik kok, Mama semakin cantik dari vokalis itu, benar-benar Mama lebih cantik lagi jika buatkan Shin Chan mie kegemaran Shin Chan", bujuk Shin Chan pada mamanya.
Pada akhirnya luluh hati mamanya dengar rengekan serta rayuan anaknya satu-satunya itu.
"Iya Shin Chan, Mama akan buat tetapi kelak ya", tutur mamanya.
"Shin Chan ingin saat ini Ma, Mama buatkan saat ini dong, Shin Chan lapar sekali", rengek Shin Chan lagi.
Tidak tahan dengar rengekan Shin Chan, mamanya langsung ke dapur serta mempersiapkan mie kegemaran Shin Chan.

"He, hehe, Shin Chan akan makan enak", tuturnya dalam hati sekalian melihat goyangan penyanyi-penyanyi cantik di TV.
"Uhh, asyiik cantik-cantik goyang ngebor, mari terus ngebor", kata Shin Chan dalam hati sekalian terus merapat mengarah TV dengan tengkurap.
Tanpa ada diakuinya, kemaluan Shin Chan berubah dengan karpet yang ada dilantai. Makin asyik, Shin Chan ikuti irama lagu di TV serta menggerak-gerakkan pinggulnya. Makin lama dia merasai rasa yang enak kemaluannya saat bergesek dengan karpet.
"Uhh, enaak, mari terus goyang", kata Shin Chan.

Mendadak kemaluan Shin Chan makin bertambah besar sebab ereksi. Makin lama makin besar sampai panjangnya seputar 20 cm, satu ukuran panjang kemaluan yang terlalu berlebih untuk anak seusia Shin Chan. Sebab celana Shin Chan ukurannya pas-pas-an untuk anak seukuran Shin Chan karena itu Shin Chan menjerit kesakitan sebab kemaluannya yang panjang itu menabrak serta terjepit karet celananya.
"Aduh, Aduh, Mama, Mama sakit Ma", jerit Shin Chan pada mamanya.
Kaget Mama Shin Chan langsung lari ke ruangan tengah serta mendapatkan Shin Chan lagi terlentang belingsatan dengan benjolan celananya yang besar sekali.
"Kamu terkena? Mana yang sakit?", bertanya mamanya pada Shin Chan ketidaktahuan.
"Ini Ma, burung Shin Chan kejepit celana, tolong Ma, aduh sakit", teriak Shin Chan sekalian meringis serta menggenggam burungnya.

Sepintas Mama Shin Chan lihat tontonan TV yang masih tetap memeprlihatkan goyangan-goyangan erotis dari penyanyinya. Mengertilah Mama Shin Chan tetapi masih bingung dengan besarnya benjolan burung Shin Chan. Untuk kurangi rasakan sakit jepitan celana pada burung Shin Chan karena itu mamanya turunkan celana Shin Chan yang lagi terlentang. Makin bertambah kagetnya Mama Shin Chan sesudah lihat burung Shin Chan yang berdiri tegak dengan ukuran melewati punya suaminya. Digenggam serta diusap-usap burung Shin Chan oleh ke-2 tangan mamanya yang lembut.
"Enaak Ma, terus.", kata Shin Chan nakal sekalian tersenyum lega.
"Shin Chan, ini mengakibatkan jika kamu melihat TV yang seperti gituan", teriak mamanya dengan muka merah serta selekasnya mematikan TV.
"Mama, Mama, maafin Shin Chan.", rengek Shin Chan hampir menangis.
Tetapi tetap burung Shin Chan berdiri tegak sebab usapan mamanya.

Mamanya Shin Chan tahu jika untuk menidurkan kembali lagi burung Shin Chan dia harus mengakhiri usapannya pada burung itu, tetapi sebab dia tidak pernah lihat serta menggenggam penis pria sebesar itu karena itu dengan dia tetap begitu lama memandang serta menyeka burung anaknya. Lihat jam dinding, dengan berat hati dia tinggalkan Shin Chan serta kedapur untuk mempersiapkan makan malam suaminya yang akan datang dari pulang kerja tidak lama lagi.

"Ma, Mama, bagaimana ini, Shin Chan kok ditinggal", teriak Shin Chan.
"Terlepas dahulu saja celanamu, duduk serta nantikan saja, jika burungmu telah tidur gunakan lagi celanamu", teriak mamanya dari dapur.
"Hihihi, dingin-dingin empuk", tawa Shin Chan sekalian memijat-mijat burungnya sendiri.
Lupa akan perintah mamanya, Shin Chan lari berputar diruang tengah tanpa ada celana tirukan tindakan superhero kecintaannya saat memberantas kejahatan.
"Hmm, mana monster-monster jahat itu agar kutembak dengan senjata baruku ini", teriak Shin Chan menggenggam burungnya serta memainkannya bak senjata.
Tingkah laku Shin Chan yang belum mengetahui apa-apa ini, membuat burungnya tetap berdiri tegang tidak ingin selekasnya tidur. Tetapi Shin Chan justru suka sebab punyai mainan baru.

Mama Shin Chan yang sudah selesai mempersiapkan makan malam keluarga, kembali lagi keruang tengah untuk lihat situasi anaknya.
"Ma, Mama, mari Ma main superhero musuh monster, Shin Chan jadi superheronya, Mama jadi monsternya ya", teriak Shin Chan pada mamanya.
"Shin Chan kamu kok nakal sekali sich, diminta duduk kok justru lari-lari", teriak mamanya tidak diacuhkan Shin Chan yang lagi asyik main dengan berlarian.
Mamanya berupaya tangkap Shin Chan untuk diminta duduk tenang, tetapi Shin Chan justru menganggap main-main serta masih terus menghindar dari tangkapan mamanya lalu kadang-kadang menggenggam burung serta mengarahkannya pada mamanya sekalian berlaga tembak.
"Dor, dor, dor", teriak Shin Chan.

Gemas campur geram mamanya Shin Chan memberikan ancaman tidak memberikannya mie, tetapi Shin Chan nakal telah tidak dengarkan lagi intimidasi mamanya yang telah dia anggap monster yang berupaya menangkapnya.
"Mari monster jika dapat tangkap Super Shin Chan", tutur Shin Chan.
Dengar beberapa kata Shin Chan, mamanya punyai akal untuk menangkapnya.
"Awas Super Shin Chan jika ketangkap akan kuberi pelajaran", kata mamanya Shin Chan beraga jadi monster.
Lalu mamanya Shin Chan selekasnya mematikan lampu diruang tengah hingga keadaannya jadi remang-remang.

"Mama, Mama Shin Chan takut, nyalain lagi lampunya", jerit Shin Chan ketakutan hingga tidak dapat bergerak dari tempatnya berdiri.
Mendadak dua tangan mamanya telah tangkap badannya dari belakang.
"Hehehe, ketangkap kamu", tutur mamanya Shin Chan dengan suara monster.
"Mama, Mama mainnya sudahan", tutur Shin Chan sekalian menjatuhkan dianya di atas karpet ruangan tengah.
"Mamamu telah tidak ada, yang ada hanya monster yang akan memberimu pelajaran", kata mamanya bak monster jahat yang siap mencengkeram mangsanya.
Berasa ditantang, keberanian Shin Chan ada kembali lagi mengingat dia punyai senjata terakhir yakni burungnya yang masih tetap berdiri.

"Super Shin Chan tidak takut sama monster buruk, sini agar kutembak", teriak Shin Chan dengan menggenggam serta arahkan burungnya mengarah muka mamanya yang merapat.
"Saya bukan monster buruk tetapi monster cantik serta tidak takut dengan senjatamu, terimalah pelajaran dariku", sebut mamanya Shin Chan langsung tangkap serta menjilati burungnya Shin Chan yang ke arah kemukanya.
Shin Chan yang tidak berkapasitas melepas tangannya dari burungnya serta terlentang mengerang"Aduh, aduh, geli Ma, geli Ma".
Tidak dengarkan rintihan Shin Chan, mamanya terus menjilati serta mengulum tangkai kemaluan Shin Chan. Kuluman maju mundur pada ujung tangkai kemaluan Shin Chan dia imbuhkan kocokan dengan tangannya pada pangkal tangkai kemaluan Shin Chan.
"Uhh, uuh, mmh, Ma, Ma, en, en, enaak", sebut Shin Chan terbata-bata.

"Teruus Ma, iya begitu, mmh, uhh, lagi Ma, mmff", kata Shin Chan yang membuat mamanya semakin percepat kuluman serta kocokan pada tangkai kemaluan Shin Chan.
"Ma, Ma, Sin, Sin, Shin Chan ingin.", belum habis perkataan Shin Chan, tangkai kemaluannya berdenyut hebat keluarkan cairan putih serta langsung menyemprot di dalam kerongkongan mamanya.
"Mmmh, mmh.", suara mamanya sekalian terus mengisap tangkai kemaluan Shin Chan serta menelan cairan putih itu ibarat mengisap plastik sedotan saat minum es jus sirsak.

"Mama, Mama kok suka sich Shin Chan pipisin", tutur Shin Chan sesudah terlepas mulut mamanya dari tangkai kemaluannya.
"Shin Chan, itu barusan bukan pipis tetapi peluru dari senjata Shin Chan yang perlu dikonsumsi oleh monster", kata mamanya Shin Chan dengan tenang.
Bertepatan dengan itu terdengar suara telepon serta rupanya dari papanya Shin Chan yang memberitahukan istrinya jika dia akan lembur malam hari ini sampai larut malam.