Cerita Hentai Shin Chan (Bagian 2)


Dengan benar-benar sedih, mamanya Shin Chan tutup gagang telephone. Dia sedih sebab keinginan nafsunya yang tinggi sesudah bermain dengan Shin Chan sampai basah celana dalamnya rupanya tidak bisa dia lampiaskan bersama-sama suaminya yang akan pulang tengah malam.
"Mama, Mama siapa yang nelpon kita?", bertanya Shin Chan yang belum juga bercelana walau burungnya telah kembali ke ukuran sebelumnya.
"Itu barusan papamu, pulangnya akan malam. Kamu cepat gunakan celanamu, makan lalu selekasnya tidur", perintah mamanya dengan suara cukup keras sekalian kembali lagi menghidupkan lampu ruang tengah.

Di kamar tidur, Shin Chan yang bersiap-siap ke arah pembaringan terlibat percakapan dengan mamanya.
"Mama, Mama esok disekolah akan saya perlihatkan senjataku pada rekan-rekan".
Mamanya langsung menjawab"Shin Chan kamu jangan memperlihatkan senjatamu itu, senjatamu itu cuma bisa kamu perlihatkan sama Mama saja, serta jangan sesekali narasi pada papamu atau seseorang, tahu?".
"Memangnya mengapa Ma?", bertanya Shin Chan tidak senang.
"Jika kamu katakan serta perlihatkan sama seseorang, Mama tidak mau lagi main sama kamu serta Mama tidak akan membikinkan mie kegemaran Shin Chan", jawab mamanya yang ditanggapi dengan anggukan oleh Shin Chan.

Di tempat tidur Shin Chan masih bimbang dengan yang disebutkan mamanya barusan.
"Mama nakal, waktu senjata kok tidak bisa dikeluarkan, eh tetapi jika tidak dituruti tidak dapat mie serta tidak dapat main, wah tidak asyik".
Gemericik air terdengar oleh Shin Chan dari arah kamar mandi. Shin Chan nakal selekasnya bergegas buka selimut lalu turun dari tempat tidurnya.
"Uhh, Mama mandi, ngintip ahh, semacam apa sich Mama punyai senjata? punyaku kalah tidak ya?", pertanyaan dalam pikiran Shin Chan.

Di dalam kamar mandi yang cuma ditutup setengah itu nampak mamanya Shin Chan sedang telanjang sekalian menanti tingginya air dalam bathtub. Berdiri bersandarkan dinding kamar mandi tangan kanan mamanya Shin Chan menyeka-usap wilayah kemaluannya sendiri serta kadang-kadang masukkan jemari tengahnya di dalam vaginanya. Disamping itu tangan kirinya meremas payudaranya sekalian pejamkan mata memikirkan burungnya Shin Chan.

Shin Chan yang sedang melihat keheranan lihat senjata mamanya yang cuma berbentuk lubang kecil yang ditumbuhi rambut-rambut halus tanpa moncongnya seperti kepunyaannya. Semakin bingung lagi saat lihat payudara mamanya.
"Uhh, Mama punyai 2 senjata, tetapi kok di atas ya?", pertanyaan dalam pikiran Shin Chan.
Berasa ingin semakin jelas dia bergerak semakin maju tetapi tubuhnya menyenggol pintu kamar mandi hingga mengagetkan mamanya.

"Shin Chan, kamu kok nakal sekali", teriak mamanya.
Dengan nyengir di bibir Shin Chan mengatakan"Mama, Mama maafin Shin Chan".
Berhadap-hadapan dengan mamanya yang telanjang, piyama Shin Chan mulai terbuka sisi bawahnya sebab tertonjol oleh tangkai kemaluan Shin Chan yang berdiri mengeras. Hal tersebut tidak lepas dari pandangan mamanya.
"Shin Chan kamu haru dikasih pelajaran lagi sebab nakal, ke sini serta membuka piyamamu", perintah mamanya.
Shin Chan yang ketakutan cuma mengikuti perintah mamanya. Dengan telanjang bundar dia masuk di dalam kamar mandi serta berdiri pas dimuka mamanya.

Dengan tinggi tubuh Shin Chan, wajahnya pas menghadap pada wilayah kemaluan mamanya.
"Mama, Mama mana senjatanya yang seperti punyai Shin Chan?", bertanya Shin Chan.
"Senjataku tidak terlihat sebab ada di dalam, lihat", jawab mamanya Shin Chan.
"Mana, tidak terlihat?", bertanya Shin Chan.
"Memang tidak, tetapi dapat keluarkan peluru, coba rasakan dengan lidahmu", perintah mamanya Shin Chan dengan menarik kepala Shin Chan sampai lidahnya sentuh bibir vagina mamanya.
"Ohh, Shin Chan rasakan lubangnya serta masukin dengan lidahmu", perintah mamanya.
Lidah Shin Chan pada akhirnya mendapatkan lubang vagina mamanya serta tanpa ada diperintah lagi bergerak dengan cara bebas dalam liang kenikmatanan mamanya.
"Ahh, terus Shin Chan, lagi, jangan stop ohh.", sebut mamanya sekalian mendesah keenakan.
Tarikan tangan Mama makin erat menggenggam kepala Shin Chan membuat Shin Chan cukup gelagapan.
"Cepat Shin Chan, Mama ingin keluarin pelurunya, ahh.", desah mamanya sekalian menggelinjangkan badannya.
Shin Chan merasai semprotan kecil yang hangat dari dalam liang kesenangan mamanya serta berupaya menelannya.

Setelah itu mereka berdua mandi bersama-sama dalam bathtub yang sudah terisi air hangat. Berdekapan dengan mamanya, tangan Shin Chan yang nakal meremas-remas payudara mamanya. Shin Chan kecil duduk dipangkuan mamanya, burungnya yang semakin mengeras berubahan dengan perut mamanya. Shin Chan terus meremas semua anggota badan mamanya yang telah merebahkan badannya. Seperti memperoleh mainan baru, badan Shin Chan yang ada di atas badan mamanya bergerak keatas kebawah sekalian merasai rasa enak di bagian burungnya sebab bersinggungan serta berubah dengan badan mamanya. Mamanya Shin Chan biarkan tingkah polah anaknya pada badannya menanti tertumpuknya keinginan nafsu yang tidak akan dibendungnya.

"Shin Chan, mari kita beradu senjata Shin Chan dengan senjata Mama", ajak mamanya Shin Chan.
"Mama, Mama bagaimana triknya?", bertanya Shin Chan bingung.
"Masukin saja senjata Shin Chan di dalam lubang yang Shin Chan masuki lidah barusan, kelak di dalam akan beradu sendiri", jawab mamanya menerangkan.
"Mari, mari Ma, diadu, tetapi yang kalah pertanda apa Ma?", bertanya Shin Chan kembali lagi.
"Yang keluarkan peluru lebih dulu yang kalah", jawab mamanya.

Mama Shin Chan selanjutnya mengendalikan tempat badan Shin Chan yang ada diatasnya cukup ke belakang hingga tangkai kemaluan Shin Chan pas ada di atas vaginanya. Dibantu oleh tangan mamanya, ujung tangkai kemaluan Shin Chan masuk sedikit di dalam lubang vagina mamanya.
"Shin Chan mari dorong agar masuk terus", sebut mamanya telah tidak sabar.
"Mama, Mama rasa-rasanya geli", jawab Shin Chan polos.
Ditariknya badan Shin Chan oleh mamanya hingga semua tangkai kemaluan Shin Chan masuk ke vagina mamanya.
"Ahh, ah.", desah mamanya merasai kesenangan gesekan burung Shin Chan dengan liang kenikmatannya lainnya dibanding burung punya suaminya.
"Uhh, mmh, mmff, enaak Ma", kata Shin Chan kegirangan.

"Shin Chan, cepat kamu maju mundur tetapi janganlah sampai terlepas ya senjatamu", perintah mamanya lagi.
Mengikuti beberapa kata mamanya, Shin Chan terus lakukan gerak maju serta mundur serta makin lama makin cepat sampai membuat gelombang yang cukup dalam bathtub.
"Shh, aah, terus Shin Chan", desah mamanya.
"Mmh, mmff, iya Ma", kata Shin Chan menyetujui.
Sesaat selanjutnya Shin Chan mengatakan"Mama, Mama saya ingin keluarin pelurunya".
"Tahan Shin Chan.", sebut mamanya sekalian mepercepat pergerakan badannya untuk menyeimbangi gerak maju mundur Shin Chan.
Lalu didekapnya badan Shin Chan yang telah terlihat tidak bisa meredam ejakulasinya.
"Mamaa..", sebut Shin Chan lirih diimbangi rasa denyutan dari tangkai kemaluannya.
Satu sentakan saluran cairan hangat dari tangkai kemaluan Shin Chan selekasnya dirasa oleh dinding-dinding liang kesenangan mamanya.

Lalu mamanya menggendong badan Shin Chan kecil yang telah didekapnya. Dalam gendongan mamanya yang dalam tempat bediri Shin Chan menguncikan kakinya pada bagia belakang badan serta kaki mamanya supaya tidak jatuh. Dalam gendongan mamanya ini Shin Chan merasai badannya digoyang keras oleh mamanya hingga gesekan yang ia alami pada tangkai kemaluannya makin ia alami nikmatnya. Hingga meluncurlah peluru-peluru selanjutnya tidak tertahan lagi. Disamping itu mamanya merasai sensasi yang tidak pernah ia alami awalnya hingga iapun capai puncaknya. Gelinjang badan mamanya seolah tidak ingin stop keluarkan segala hal dari dalam liang kenikmatannya yang terdalam.

Sesudah melepas gendongan badan Shin Chan, mamanya kembali lagi berbaring di dalam bathtub untuk istirahatkan badannya. Sesaat Shin Chan sekalian menangis langsung kembali pada kamarnya sesudah kenakan piyama sebab menganggap kalah.